Cirebon, kota yang dikenal sebagai kota udang dan memiliki kekayaan budaya yang khas, juga menyimpan banyak kisah inspiratif dari para pelaku usaha kecil dan menengah. Salah satu kisah menarik datang dari Yanto Prasetyo, seorang pengusaha keripik gedebok yang berhasil mengubah sisa limbah batang pisang menjadi kudapan renyah dan lezat yang digemari masyarakat. Kisah Yanto menjadi bukti bahwa dengan kreativitas dan ketekunan, sesuatu yang dianggap tidak berharga dapat diolah menjadi sumber rezeki dan membuka peluang lapangan kerja baru.
Yanto Prasetyo, pria kelahiran Cirebon tahun 1980-an, memulai usahanya dari nol. Latar belakang keluarga yang sederhana dan pendidikan yang tidak tinggi membuat Yanto terbiasa berjuang sejak muda. Sebelum terjun ke dunia wirausaha, ia sempat menjadi buruh serabutan dan membantu orang tua bertani. Namun, penghasilan yang didapat sering kali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Dorongan untuk mandiri dan membantu ekonomi keluarga membulatkan tekad Yanto untuk mencari peluang usaha. Pada tahun 2012, ide kreatif bermula saat ia melihat banyak batang pisang (gedebok) yang dibuang petani di sekitar desanya. Batang pisang biasanya dianggap limbah dan tidak dimanfaatkan. Namun Yanto, setelah menonton sebuah acara televisi tentang inovasi makanan dari bahan tidak biasa, terinspirasi untuk mencoba mengolah gedebok menjadi makanan ringan.
Merintis Keripik Gedebok Yanto tentu tidak mudah. Pada percobaan pertama, hasilnya jauh dari harapan. Tekstur keripik masih terlalu keras, rasa hambar, bahkan warna keripik tidak menarik. Namun, kegagalan tersebut justru memacu Yanto untuk bereksperimen lebih lanjut. Ia mencoba berbagai cara, mulai dari teknik pengirisan, proses perendaman dengan air garam, hingga teknik penggorengan.
Istri Yanto menjadi orang terdekat yang selalu memberikan dukungan dan menjadi "tester" pertama produknya. Tak jarang mereka harus membuang satu baskom penuh keripik yang gagal. Tetapi dengan kegigihan dan tekad yang kuat, akhirnya Yanto menemukan formula pas: gedebok yang digoreng menjadi keripik yang renyah, gurih, dan berwarna keemasan.
Setelah yakin dengan rasa produknya, Yanto mulai menawarkan keripik gedebok buatannya ke tetangga dan pasar terdekat. Awalnya, ia menjual dengan kemasan sederhana tanpa merek. Respons masyarakat ternyata cukup positif karena rasa gurih dan keunikannya. Melihat potensi pasar, Yanto mulai menamai produknya "Keripik Gedebok Yanto" dan memperbaiki kemasan agar lebih menarik.
Strategi pemasaran dilakukan dengan menawarkan ke warung-warung, titip jual di toko kelontong, mengikuti bazar UMKM lokal, serta memanfaatkan media sosial. Seiring dengan pertumbuhan penjualan, Yanto mendapat tawaran untuk memasok keripik gedebok ke beberapa toko oleh-oleh khas Cirebon dan bahkan permintaan datang dari luar kota.
Dalam menghadapi persaingan, Yanto tidak berhenti berinovasi. Ia terus menciptakan variasi rasa, seperti keripik gedebok rasa balado, keju, barbeque, hingga pedas manis. Semua dilakukan tanpa menghilangkan ciri khas rasa asli gedebok. Ia juga mengikuti pelatihan dari dinas koperasi dan UMKM setempat, sehingga kemasan produknya semakin menarik dan memperoleh sertifikasi PIRT.
Tak hanya dari segi rasa dan kemasan, Yanto juga meningkatkan proses produksi dengan memperkerjakan warga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga. Hal ini tidak hanya mengangkat perekonomian keluarganya, tapi juga membantu perekonomian masyarakat desanya.
Usaha Yanto kini dikenal luas di Cirebon dan sekitarnya. Omset bulanannya mencapai puluhan juta rupiah. Produk Keripik Gedebok Yanto tidak hanya ditemukan di pasar tradisional, tetapi juga dijual di toko oleh-oleh modern dan beberapa platform online.
Selain itu, Yanto beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah daerah sebagai pelaku UMKM inspiratif. Ia kerap diundang mengisi seminar atau pelatihan kewirausahaan, berbagi semangat dan kiat sukses kepada generasi muda.
Yanto memiliki harapan agar Keripik Gedebok Yanto tidak hanya menjadi oleh-oleh khas Cirebon, tapi juga dapat dinikmati hingga ke tingkat nasional. Ia berencana memperluas kapasitas produksi dan menjalin kerja sama dengan distributor besar.
Bagi Yanto, kesuksesan bukan semata-mata soal materi, tapi bagaimana usahanya bisa memberi manfaat bagi banyak orang serta turut menjaga lingkungan dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai.
Kisah Yanto Prasetyo dan Keripik Gedebok Yanto adalah teladan nyata bahwa keberhasilan dapat diraih oleh siapa saja yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah pada kegagalan. Dari limbah yang sering kali terabaikan, Yanto membuktikan bahwa dengan inovasi, peluang usaha bisa tercipta di mana saja, bahkan di tempat yang paling sederhana sekalipun. Semoga kisah ini menginspirasi lebih banyak pelaku usaha mikro lainnya di seluruh Indonesia.