Sulaeman Aditya mungkin bukan nama yang langsung dikenal banyak orang di kancah pengusaha nasional, namun di Cirebon dan sekitarnya namanya begitu familiar, terutama dalam dunia kuliner keripik singkong. Kisah suksesnya bermula dari keinginan sederhana untuk menciptakan peluang kerja dan memanfaatkan sumber daya lokal di lingkungan tempat tinggalnya. Pada tahun 2011, Sulaeman memulai bisnis keripik singkong dengan modal terbatas, yakni Rp 3 juta yang ia kumpulkan bersama keluarga, sekaligus memanfaatkan singkong hasil kebun sendiri di desa.
Saat itu, keripik singkong bukan makanan baru bagi masyarakat Cirebon, namun kebanyakan produk yang beredar adalah keripik singkong yang biasa saja tanpa inovasi rasa ataupun kemasan. Sulaeman ingin membuat sesuatu yang berbeda; ia menciptakan berbagai varian rasa, seperti pedas asin, balado, keju, jagung manis, barbeque bahkan rasa unik seperti rendang dan seaweed. Pemilihan rasa ini dilakukan setelah melakukan sedikit riset sederhana terhadap tren kuliner dan selera konsumen di Cirebon.
Memulai bisnis di desa bukan perkara mudah. Sulaeman menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan alat pengolahan, pengetahuan produksi yang minim, hingga sulitnya mendapatkan kemasan yang menarik. Awalnya, ia mengolah singkong secara manual menggunakan pisau dan menggoreng dengan wajan sederhana. Keripik singkong hasil produksinya dikemas dalam plastik biasa tanpa label menarik dan dijual ke warung-warung sekitar.
Walaupun penjualan terbatas, Sulaeman tidak patah semangat. Ia memanfaatkan media sosial, terutama Facebook dan WhatsApp, untuk memperkenalkan produk ke teman dan relasi di luar desa. Perlahan, keripik singkongnya mulai dikenal. Semakin hari, permintaan semakin meningkat hingga ia harus merekrut tambahan tenaga kerja dari warga desa setempat agar produksi dapat memenuhi permintaan.
Sulaeman tidak puas hanya dengan satu jenis keripik. Ia terus berinovasi, mencoba memperbaiki kualitas rasa dan tekstur. Ia mulai mencari supplier kemasan yang mampu membuat bungkusan keripik singkong tampak lebih premium. Selain itu, Sulaeman juga melakukan branding dengan menggunakan nama "Keripik Singkong Sulaeman" disertai logo sederhana yang mencerminkan keaslian dan kearifan lokal Cirebon.
Pemasaran pun berkembang dari mulut ke mulut dan rekomendasi pelanggan. Sulaeman mulai membuka peluang reseller di berbagai kota di Jawa Barat, bahkan tak sedikit pesan melalui marketplace seperti Tokopedia dan Shopee. Dengan strategi pemasaran digital, produk ini mulai dikenal luas di luar Cirebon.
Salah satu hal yang membuat Keripik Singkong Sulaeman terus diminati adalah komitmen Sulaeman terhadap kualitas bahan baku. Singkong yang digunakan adalah singkong hasil kebun lokal yang dipilih khusus agar rasa keripiknya renyah dan gurih. Proses pengolahan dilakukan dengan standar kebersihan yang ketat sehingga keripik yang dihasilkan benar-benar sehat tanpa bahan pengawet berbahaya.
Sulaeman juga mengedukasi para pekerjanya tentang pentingnya sanitasi dan kebersihan produksi. Ia memberikan pelatihan rutin agar produk tetap konsisten baik pada rasa maupun kualitas sehingga kepercayaan konsumen tetap terjaga.
Usaha keripik singkong yang awalnya hanya dikerjakan oleh keluarga kini telah berkembang pesat. Sulaeman telah membuka lapangan pekerjaan bagi lebih dari 15 orang warga desa. Para pekerja mendapatkan pelatihan, penghasilan memadai, serta kesempatan untuk mengembangkan keterampilan. Selain itu, para petani singkong setempat pun ikut merasakan dampak positif dari meningkatnya permintaan singkong.
Tidak hanya itu, Sulaeman aktif dalam kegiatan sosial, seperti menyisihkan sebagian hasil usaha untuk memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Ia percaya, keberhasilan harus dibagikan serta membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Keripik Singkong Sulaeman telah meraih berbagai penghargaan di tingkat lokal, seperti Juara II Produk Unggulan Kabupaten Cirebon dan menjadi salah satu produk oleh-oleh khas Cirebon yang direkomendasikan oleh Dinas Pariwisata. Produk keripik singkong ini juga beberapa kali masuk liputan media lokal dan nasional, memperkuat branding sebagai produk UMKM yang inovatif dan berkualitas. Tak jarang, wisatawan yang berkunjung ke Cirebon selalu membawa pulang Keripik Singkong Sulaeman sebagai buah tangan.
Sulaeman sering berbagi pengalamannya kepada pengusaha UMKM lain di Cirebon. Menurutnya, kegagalan adalah bagian dari proses belajar, dan modal terbesar sebenarnya adalah niat serta ketekunan.
Sulaeman Aditya bercita-cita membawa Keripik Singkong Sulaeman menjadi merek nasional. Ia tengah mempersiapkan ekspansi ke berbagai kota besar, bahkan berencana mengembangkan varian keripik lain berbahan dasar talas dan ubi jalar. Ia juga berharap suatu saat produknya dapat diekspor ke negara tetangga sebagai representasi kuliner khas Indonesia yang sehat dan kreatif.
Selain ekspansi bisnis, Sulaeman ingin memperkuat sistem pelatihan bagi tenaga kerja lokal agar mereka bisa mandiri dan membuka usaha sendiri, sehingga semangat kewirausahaan bisa berkembang di lingkungan sekitar Cirebon.
Kisah Sulaeman Aditya adalah bukti bahwa kemauan, inovasi, dan kerja keras dapat membawa seseorang meraih kesuksesan meskipun berawal dari hal sederhana. Keripik Singkong Sulaeman bukan hanya jajanan lezat, tetapi juga membawa manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat Cirebon. Setiap langkah yang diambil Sulaeman menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak takut memulai dan terus berinovasi.
Kesuksesan Keripik Singkong Sulaeman merupakan contoh nyata bahwa produk lokal dapat melesat dan bersaing di pasar nasional dengan strategi yang tepat dan komitmen pada kualitas. Semoga kisah ini dapat menjadi motivasi, bahwa peluang dan harapan selalu ada bagi siapapun yang mau berusaha.