Cirebon, sebuah kota di pesisir utara Jawa Barat, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra batik nusantara yang kaya dengan kekhasan motif dan warna. Salah satu sosok inspiratif yang berhasil mengangkat nama batik Cirebon di kancah nasional adalah Siti Rohmah, pendiri Batik Siti Cirebon. Melalui perjuangan tanpa lelah, kegigihan, serta inovasinya yang tiada henti, Siti Rohmah telah membuktikan bahwa warisan budaya bisa menjadi pondasi bisnis yang kuat dan berdampak luas bagi masyarakat.
Siti Rohmah lahir dan dibesarkan di keluarga sederhana di kawasan Trusmi, pusat batik legendaris di Cirebon. Meski memiliki latar belakang ekonomi terbatas, Siti tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan tradisi membatik. Sejak kecil, ia sering melihat ibunya membuat batik secara tradisional di teras rumah. Kecintaan pada seni batik inilah yang perlahan melekat dalam dirinya.
Setelah menamatkan pendidikan dasar, Siti memilih untuk lebih mendalami batik. Ia belajar dari berbagai pengrajin senior di Trusmi, bahkan sempat menjadi pekerja harian di beberapa rumah produksi batik. Dengan ketekunan, ia mampu memahami proses pembuatan batik dari awal hingga akhir, mulai dari memilih kain, membuat pola, sampai proses pewarnaan dan pelorodan.
Tahun 2005 menjadi tonggak penting dalam hidup Siti Rohmah. Dengan modal sangat terbatas—hanya cukup untuk membeli beberapa helai kain dan alat membatik sederhana—ia memutuskan untuk memulai usaha kecil di sudut rumahnya. Awalnya, Batik Siti hanya menjual 2-3 potong kain batik setiap bulannya, dan itu pun sebagian besar kepada tetangga serta teman dekat.
Namun, Siti tidak patah semangat. Ia terus memperbaiki kualitas kain, memperkaya motif dengan sentuhan khas Cirebon seperti Mega Mendung, Wadasan, dan Singa Payung, serta mencoba berjualan ke pasar-pasar lokal. Ia juga mulai mengenalkan batik buatannya melalui pameran kecil di desa dan kegiatan komunitas perempuan setempat.
Keunikan Batik Siti terletak pada kombinasi antara motif klasik dan modern. Siti Rohmah sadar bahwa generasi muda saat ini mulai kurang tertarik dengan batik karena dianggap kuno dan berat. Untuk itu, ia mulai bereksperimen dengan berbagai warna cerah dan desain yang lebih segar, seperti motif flora dan fauna yang disukai anak muda.
Selain itu, Batik Siti juga menawarkan produk turunan, seperti tas, dompet, masker, bahkan sneakers bermotif batik. Inovasi ini membuat Batik Siti semakin dikenal dan digemari oleh pasar yang lebih luas, tidak hanya di Cirebon tetapi juga di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, bahkan menembus pasar mancanegara.
Jalan menuju sukses tentu tidak mudah. Siti Rohmah harus menghadapi tantangan dalam hal pendanaan, pemasaran, bahkan edukasi kepada tenaga kerja. Banyak pengrajin muda yang enggan terjun ke industri batik karena menganggapnya kurang menjanjikan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Siti aktif menggandeng komunitas dan lembaga-lembaga pelatihan kewirausahaan lokal. Ia membuka kesempatan magang bagi remaja dan perempuan di lingkungan sekitarnya untuk belajar membatik, sekaligus memberikan pembekalan tentang pemasaran digital. Siti pun memanfaatkan media sosial sebagai wadah promosi dan edukasi, memperkenalkan Batik Siti kepada generasi digital.
Salah satu keberhasilan terbesar Siti Rohmah adalah dampak sosial yang dihasilkan oleh usaha batiknya. Lebih dari 50 perempuan di desa Trusmi kini bekerja bersama di Batik Siti, mendapatkan penghasilan layak dan kemandirian ekonomi. Anak-anak mereka juga bisa melanjutkan pendidikan tanpa kendala biaya seperti yang pernah ia alami dulu.
Keberhasilan ini juga menarik perhatian pemerintah daerah dan berbagai instansi kewirausahaan nasional. Siti Rohmah beberapa kali diundang sebagai pembicara pada seminar dan workshop UMKM, membagikan pengalamannya dalam membangun bisnis yang memberdayakan sekaligus melestarikan budaya.
Atas dedikasi dan kontribusinya, Batik Siti telah menerima berbagai penghargaan. Di antaranya adalah Penghargaan Wanita Inspiratif Jawa Barat, Piagam UMKM Tangguh dari Kementerian Koperasi, hingga kesempatan mengikuti pameran batik tingkat nasional di Jakarta Convention Center. Beberapa produk Batik Siti bahkan pernah diikutsertakan dalam pameran dagang di Singapura dan Jepang.
Selain itu, Siti Rohmah juga kerap diminta menjadi mentor bagi pelaku UMKM baru, khususnya perempuan yang ingin membangun usaha berbasis potensi lokal. Ia percaya bahwa kesuksesan terbaik adalah ketika dapat membagikan ilmu dan membuka jalan bagi orang lain untuk ikut berkembang.
Siti Rohmah masih menyimpan banyak cita-cita. Ia bercita-cita membangun pusat edukasi batik modern di Cirebon yang tak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pelatihan, pengembangan desain, hingga pemasaran digital untuk generasi baru. Visi besarnya adalah menjadikan Batik Siti sebagai ikon batik inovatif dari Jawa Barat yang mampu bersaing di tingkat dunia, namun tetap setia pada akar budaya lokal.
Melalui kisahnya, Siti Rohmah membuktikan bahwa keberanian mengambil langkah, ketekunan, dan inovasi adalah kunci utama dalam membangun usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berdampak luas pada masyarakat. Batik Siti hari ini bukan hanya sebuah merek dagang batik, melainkan juga simbol perjuangan, harapan, dan semangat wanita Indonesia dalam menjaga dan mengembangkan budaya negeri.